Mengenai Saya

Foto saya
Komplek Kartika Sejahtera INKOPAD Blok C8 No 7 Rt. 10, Rw. 05, Sasak Panjang, Tajurhalang, Bogor 16320, Tlp/SMS.: 083819248775, 082111941016 Pin BB : 5E314737, Whatsapp 0838-1924-8775, Jawa Barat, Indonesia

Selasa, 12 Juli 2016

Sirih Merah


Tanaman Sirih Merah memang bagus untuk dipajang sebagai tanaman hias. Tapi diam-diam, juga ampuh untuk menyembuhkan berbagai penyakit serius. Antara lain, Diabetes Melitus, jantung koroner dan tumor. Nah lo. Bagaimana menggunakannya? Bagaimana cara memperbanyaknya? Berikut artikel yang layak Anda baca.


Atasi Aneka Penyakit

Setelah seminggu mengonsumsi sirih merah dalam bentuk kapsul, Susmiarto merasakan sakit yang luar biasa di kakinya. Namun, pagi harinya rasa nyeri di kedua kakinya berkurang drastis. Tanda-tanda kesembuhan ini sangat melegakan hatinya karena luka mulai mengering dan berangsur-angsur sembuh.

Kesembuhan juga dialami Siska Ribowo, di Jakarta, yang mengidap tumor di bagian payudara. Beruntung, ibu penggemar tanaman hias mendapatkan info tentang khasiat sirih merah. Atas saran herbalisnya, ia pun mengonsumsi sirih merah dalam bentuk rebusan selembar daun segar per hari. Dua gelas air direbus sampai tinggal satu gelas. Air rebusan ini dibagi tiga dan diminum 3 kali sehari sebelum makan. Kini, ia terbebas dari ancaman tumor yang menurut diagnosis dokter sangat mungkin menjadi ganas atau kanker.

Khasiat tanaman cantik bernama sirih merah (Piper crocatum) ini memang mencengangkan banyak orang. “Selain DM dan tumor, sirih merah juga berkhasiat menyembuhkan penyakit jantung koroner, asam urat, hipertensi, peradangan organ tubuh (paru, ginjal, hati, dan pencernaan), serta luka yang sulit sembuh,” ujar Bambang Sadewo.

Segudang khasiat sirih merah itu disebabkan sejumlah senyawa aktif yang dikandungnya, antara lain flavonoid, alkoloid, polevenolad, tanin, dan minyak asiri. Senyawa flavonoid dan polevenolad bersifat antioksidan, antidiabetik, antikanker, antiseptik, dan anti- inflamasi. Sedangkan senyawa alkoloid mempunyai sifat antineoplastik yang juga ampuh menghambat pertumbuhan sel-sel kanker.

Tanaman Pot

Pamor sirih merah sebagai herba yang berkhasiat memang baru terdengar dua tahun belakangan ini. Awalnya, tanaman berdaun hijau dengan semburat pink ini banyak dijadikan tanaman hias.

Adalah Bambang Sadewo, pemilik Klinik Herbal Center, Yogyakarta, yang mempelopori penggunaan sirih merah sebagai obat.

Bagi yang ingin sibuk, sirih merah kini tersedia dalam bentuk ekstrak, tunggal maupun dengan campuran herba lainnya yang dijual dengan harga Rp60.000/60 kapsul. Dalam bentuk segar, manfaat sirih merah juga dapat diperoleh dengan merebus sejumlah daun sirih segar yang cukup tua.

Sirih ini tidak sulit dibudidayakan. Bahkan dalam pot pun dapat tumbuh subur. Ia tidak menyukai panas maupun air yang berlebihan. Media tanamnya sederhana, yakni campuran kompos dan tanah dengan perbandingan 1 : 1. Tanaman disiram satu kali sehari, sedangkan untuk menghindari panas yang terlalu terik atau guyuran air hujan berlebihan, pot bisa dipindah ke tempat yang aman.

Sirih merah dapat diperbanyak melalui cangkok. Medianya, kompos daun bambu yang dibungkus plastik bening. Semprot media cangkok satu kali sehari, dalam waktu 2—4 minggu, anakan sirih merah sudah bisa dipisahkan dari tanaman induknya.

Amankah Madu untuk Penderita Diabetes


1. MADU merupakan cairan alami yang enak dan manis. Madu juga dinilai sebagai "makanan istimewa" untuk kebugaran tubuh. Bahkan, mampu menjaga lestarinya kemampuan seksual seseorang. Menurut sumber kepustakaan, setiap 1.000 g madu bernilai 3.280 kalori. Nilai kalori 1 kg madu sama dengan 50 butir telur atau 5, 575 l susu, atau 1, 680 kg daging.

Sejak ribuan tahun lalu, madu sudah dikenal sebagai sumber pakan berkhasiat. Khasiat madu amat berkaitan dengan kandungan gulanya yang tinggi. Yakni fruktosa 41%, glukosa 35%, dan sukrosa 1, 9%. Serta unsur kandungan lainnya, seperti tepung sari ditambah berbagai enzim pencernaan. Lalu ada vitamin A, vitamin B1, vitamin B2, antibiotika, dan lainnya.

Meski sama manisnya, perlakuan tubuh manusia terhadap madu yang manis itu berbeda dibandingkan dengan gula atau gula pasir. Madu dapat diproses langsung menjadi glukogen, sedangkan gula harus diproses terlebih dulu oleh enzim pencernaan di usus. Dengan demikian tubuh manusia bisa lebih cepat merasakan manfaat madu dibandingkan dengan gula pasir. Dari beberapa hal itu, rasanya bisa disimpulkan kalau madu bisa memberikan manfaat sangat penting dalam kehidupan manusia. Jadi, sebenarnya madu aman untuk penderita kencing manis, asal madunya murni dan bukan oplosa.

2. Semua jenis madu bagus. Madu hitam, biasanya berasal dari nektar atau saribunga pohon mahoni. Madu hitam juga bisa menurunkan kadar gula dan menambah nafsu makan bagi anak-anak yang sulit makan. Namun, madu hitam ini rasanya pahit dibanding dengan madu warna lainnya.

3. Diabetes atau kencing manis adalah penyakit yang ditandai oleh kadar gula darah yang tinggi melebihi batas-batas normal. Penyakit ini disebabkan oleh kurangnya kadar insulin dalam darah, atau karena tubuh tidak dapat memakai insulin dengan baik. Insulin adalah hormon yang dihasilkan oleh tubuh dan mempunyai fungsi penting dalam metabolisme glukosa.

Dalam bentuk murni, berbagai jenis gula tersebut memiliki nama masing-masing, seperti fruktosa (gula buah), galaktosa, glukosa, laktosa (gula susu), maltosa, ribosa, serta gula alkohol, seperti sorbitol dan xilitol. Di samping itu, bila dilihat dari sumbernya, maka gula bisa dibedakan, yakni madu, sirup jagung dan molase. Molase merupakan sirup kental, lazimnya berwarna cokelat gelap yang dihasilkan selama penyaringan gula.

Semua gula pada dasarnya sama. Tak terdapat satu pun yang memberikan keuntungan gizi signifikan melebihi yang lain, kecuali madu dan molase yang mayoritas gulanya sudah dihilangkan/dike luarkan. Molase kaya akan zat besi, sedangkan madu sarat flavonoid, zat fitokimia yang berperan sebagai antioksidan.

Sukrosa adalah gula utama dalam buah, seperti dalam buah blewah, jeruk, kismis, mangga, melon, nanas, pisang, dan semangka. Bonus kesehatan yang berasal dari makan buah terletak pada kandungan vitamin, mineral, serat, dan flavonoidnya, bukan pada jenis gula yang dikandung oleh buah.

Ada perbedaan tingkat kemanisan gula. Fruktosa lebih manis daripada jenis-jenis gula lain (hampir dua kali kemanisan sukrosa) sehingga diperlukan sedikit saja untuk membuat makanan terasa manis.

Tubuh membutuhkan gula. Glukosa, yang merupakan gula utama dalam darah dan bahan bakar dasar bagi tubuh, esensial untuk berfungsinya seluruh sel, terutama sel-sel otak.

Namun, kita tidak perlu makan gula untuk memasok glukosa. Yang dibutuhkan tubuh adalah karbohidrat kompleks, juga dikenal sebagai zat pati, yang ditemukan pada makanan-makanan yang berasal dari padi, sayuran, dan buah. Pada beberapa keadaan, glukosa dapat diproduksi dari pemecahan protein atau lemak.

Ketika mengonsumsi makanan yang mengandung gula, makanan itu dipecah tubuh menjadi bentuk gula yang paling sederhana, kecuali gula dalam makanan tersebut telah berbentuk sangat sederhana.

Misalnya, selama pencernaan, sukrosa dipecah menjadi glukosa dan fruktosa, yang memasuki aliran darah melalui dinding-dinding usus halus serta melintasi sel-sel tubuh dan hati. Dengan bantuan insulin, yakni hormon pengatur kadar glukosa, sel-sel menyerap glukosa dan menggunakannya sebagai energi.

Glukosa disimpan di hati dan otot dalam bentuk glikogen. Glikogen di hati sewaktu-waktu dapat diubah kembali menjadi glukosa pada saat energi diperlukan. Sebagian besar fruktosa diubah pula menjadi glukosa oleh hati. Hati pun dapat mengubah gula menjadi asam-asam amino-balok-balok pembangun protein. Kelebihan gula, sebagaimana halnya energi ekstra lainnya, diubah menjadi lemak dan disimpan di dalam tubuh.

Sel memerlukan insulin agar gula yang ada di dalam darah dapat masuk ke dalam sel dan dipakai sebagai sumber energi. Bila jumlah insulin kurang, tentu saja gula tidak dapat diserap ke dalam sel dan tetap beredar di dalam darah. Akibatnya kadar gula darah menjadi tinggi. Penderita yang mengalami keadaan ini disebut sebagai penderita DM tipe I.

Ada keadaan lain di mana jumlah insulin sebenarnya cukup, atau berkurang sedikit, tapi sel-sel tubuh tidak dapat memanfaatkannya secara baik. Keadaan ini disebut resistensi insulin. Penderita yang mengalami resistensi insulin dan atau defisiensi insulin relatif disebut sebagai penderita DM tipe II
Jadi, penyebabnya bukan karena kelebihan konsumsi gula. Gula memang amat berbahaya bagi pengidap diabetes. Mereka harus membatasi konsumsi gulanya. Tetapi, gula tidak menyebabkan diabetes.

Tak ada alasan kuat untuk membatasi konsumsi gula secara ketat, kecuali kalau Anda penderita diabetes atau orang yang sensitif terhadap karbohidrat. Penderita diabetes pun masih diperbolehkan makan makanan yang manis. Namun, menghindari konsumsi gula terlalu banyak tetap lebih baik.
Gula secara alami dijumpai pula pada buah-buahan, sayur-sayuran, dan produk susu. Idealnya, gula memberikan kontribusi tidak melebihi 15 persen dari total energi per hari. Kendati begitu, perlu diingat bahwa sebagian besar makanan manis mengandung lemak dan energi yang tinggi, tetapi zat gizinya relatif rendah.

Karena itu, ada baiknya melakukan pola makanan seimbang, yakni rendah lemak dan tinggi karbohidrat, tak ada alasan menjauhi gula. Dengan pola makan seimbang, Anda secara otomatis akan membatasi konsumsi gula.









Jumat, 19 September 2014

WARUNG RAIHAN SPORT atau RAYASHOP71 ONLINE




WARUNG RAIHAN SPORT atau RAYASHOP71 ONLINE merupakan Toko On-Line yang menyediakan perlengkapan dan peralatan olahraga khususnya Badminton dan Bola.

Toko ini didirikan sejak Februari 2011, oleh M. Akhlis Prasojo.

Dan Aklis panggilan akrabnya saat ini masih aktif bekerja di salah satu di Retail Lokal Terbesar di Indonesia, sebagai Senior Analist.

Untuk melihat dan ingin bertransaksi - order bisa kunjungi di :

www.warungraihan.blogspot.com

www.rayashop71.blogspot.com

FB Warung Raihan Sport

FB Raya Shop71 Yulianti 

Tlp/SMS.: 081382448510, 083819248775

Whatsapp / Line  : 083819248775

PIN BB : 5E314737, 29DB3F9E

Alamat : Komplek Angkatan Darat Kartika Sejahtera INKOPAD Blok C8 No 7 Rt. 10, Rw. 05, Sasak Panjang, Tajurhalang, Bogor 16320, Jawa Barat

Senin, 14 Oktober 2013

Membuat Toko Online



Membuka Toko Online....

Mudah ??

Atau 

Sulit ??

Atau ke dua - duanya ??

-----------------------------------------------------

Toko Online merupakan toko yang menjual produk atau jasa melalui dunia maya dalam hal ini Internet. Di mana pembeli atau konsumen tidak secara langsung dapat datang atau melihat secara langsung barang atau produk yang akan di beli. Tetapi hanya bisa melihat gambar atau foto yang ada di Internet.

----------------------------------------------------------------

Untuk menjual produk / jasa melalui sistem online ini, sebenarnya tidak sulit.
Dan kita sering bertanya pada diri sendiri , sebenarnya apa yang harus disiapkan atau yang dibutuhkan untuk membuat toko online ini, dalam hal ini barang yang akan kita jual.

Niat, kemauan, keberanian, dan kejujuran merupakan beberapa pondasi dasar yang harus di miliki. 

----------------------------------------------------------------

Banyak sekali teori dan pendapat dalam hal membuat toko online ini harus mempersiapkan sebuah sistem atau piranti lunak atau software toko online  atau lebih keren disebut piranti lunak e-commerce yang baik atau banyak tampilan yang luwes dan canggih.

Tidak selalu benar !!

 Bagi Kita yang baru memulai bisnis secara online ini tidak usah terlalu rumit atau susah untuk berfikir untuk masalah tersebut. Apalagi kita yang sama sekali tidak memiliki MODAL Dana yang memadai.

-----------------------------------------------------------------

Bagaimana dengan barang / produk yang akan kita jual. 
Pasti banyak sekali juga kita bertanya pada diri sendiri.
 Barang apa yang akan kita jual ?
Dimana Saya mendapatkan barang nanti ?
Berapa modal yang harus Saya keluarkan untuk barang tersebut ?
Dan masih banyak pertanyaan di pikiran kita.

Yang jelas kita tidak selalu mengeluarkan modal atau dana untuk membeli barang untuk kita jual. Atau bisa di bilang MODAL 0.

--------------------------------------------------------------

Untuk kita yang baru memulai membuka Toko Online ini bisa dilakukan sendiri. Kenapa tidak....

--------------------------------------------------------------

BERSAMBUNG 

Minggu, 11 Maret 2012

KHITAN / SUNAT

KHITAN / SUNAT
Penulis: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman bintu ‘Imran)

Sunat atau khitan atau sirkumsisi (Inggris: circumcision) adalah tindakan memotong atau menghilangkan sebagian atau seluruh kulit penutup depan dari penis. Frenulum dari penis dapat juga dipotong secara bersamaan dalam prosedur yang dinamakan frenektomi. Kata sirkumsisi berasal dari bahasa Latin circum (berarti "memutar") dan caedere (berarti "memotong").

Sunat telah dilakukan sejak zaman prasejarah, diamati dari gambar-gambar di gua yang berasal dari Zaman Batu dan makam Mesir purba. Alasan tindakan ini masih belum jelas pada masa itu tetapi teori-teori memperkirakan bahwa tindakan ini merupakan bagian dari ritual pengorbanan atau persembahan, tanda penyerahan pada Yang Maha Kuasa, langkah menuju kedewasaan, tanda kekalahan atau perbudakan, atau upaya untuk mengubah estetika atau seksualitas.

Salah satu tahapan yang dilalui seorang anak menuju dewasa (baligh) adalah prosesi khitan. Islam sebagai agama yang sempurna telah memberikan bimbingannya dalam masalah ini. Bahkan Islam menjadikan khitan sebagai salah satu pembeda antara orang Islam dan orang Non Islam.Sunat pada laki-laki diwajibkan pada agama Islam.

Saat buah hati bertambah usia, bertambah besar pula harapan ayah bunda pada dirinya. Ingin rasanya melihat sang permata tumbuh dalam didikan kesalehan. Datang saatnya sang anak menyaksikan tegaknya syariat pada dirinya. Tiba waktunya untuk melaksanakan khitan.

Tak kan asing telinga mendengar istilah khitan, walaupun kadang diungkapkan dengan kata lain, seperti sunatan, tetakan, atau yang lainnya. Bahkan sudah lazim mengadakan “pengantin sunat” yang telah teranggap sebagai adat di tengah masyarakat. Dengan arak-arakan yang memajang anak yang dikhitan di atas kuda yang berhias, dengan menggelar pertunjukan wayang semalam suntuk, atau memandikan si anak dengan air “bunga setaman” untuk menolak bala, ataupun acara lain yang “khas” di setiap daerah padahal itu bukan dari syariat Islam.

Sesungguhnya khitan adalah bagian dari syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah n. Oleh karena itu, segala yang berkaitan dengan khitan, baik menyangkut pelaksanaan khitan maupun hal-hal lain seputar pelaksanaannya, semestinya berjalan pula di atas syariat.

Rasulullah n telah menetapkan adanya khitan bagi umat ini. Hal ini diriwayatkan oleh sahabat yang mulia, Abu Hurairah z:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ n يَقُوْلُ: الفِطْرَةُ خَمْسٌ، الْخِتَانُ وَالْاِسْتِحْدَادُ وَقَصُّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيْمُ الْأَظْفَارِ وَنَتْفُ الْإِبْطِ

“Aku mendengar Rasulullah n bersabda, ‘Fitrah itu ada lima hal: khitan, mencukur bulu kemaluan, mencukur kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 6297 dan Muslim no. 257)
Para ulama menjelaskan bahwa fitrah maknanya adalah sunnah para nabi. (Syarh Shahih Muslim, 3/148)

Demikianlah, perintah khitan telah didapati sebelum Rasulullah n. Bahkan perintah ini turun pada kekasih Allah l, Nabi Ibrahim q, sebagaimana kabar dari Rasulullah n yang disampaikan oleh Abu Hurairah z:
اخْتَتَنَ إِبْرَاهِيْمُ q بَعْدَ ثَمَانِيْنَ سَنَةًِ

“Nabi Ibrahim q berkhitan setelah berusia 80 tahun.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 6298 dan Muslim no. 2370)

Allah l pun telah memerintahkan untuk mengikuti jalan Nabi-Nya Ibrahim q ketika Allah l berfirman:

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu, ‘Ikutilah agama Ibrahim yang lurus!’.” (an-Nahl: 123)

Ayat yang mulia di atas dengan jelas menerangkan bahwa khitan merupakan bagian dari agama Ibrahim q. Oleh karena itu, khitan wajib dilaksanakan.
Hal ini juga didukung perintah Rasulullah n kepada seseorang yang masuk Islam. Utsaim bin Kulaib mengisahkan dari ayahnya dari kakeknya, tatkala kakek Utsaim menyatakan keislamannya di hadapan Rasulullah n. Beliau pun bersabda:
أَلْقِ عَنْكَ شَعْرَ الْكُفْرِ وَاخْتَتِنْ

“Buanglah darimu rambut kekufuran dan berkhitanlah.” (HR. Abu Dawud no. 302, dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani t dalam Irwa’ul Ghalil no. 79)

Perintah Rasulullah n ini menunjukkan wajibnya khitan bagi orang yang masuk Islam, dan hal itu merupakan tanda keislamannya. (‘Aunul Ma’bud 2/16)

Asy-Syaikh al-‘Utsaimin t menjelaskan permasalahan ini. Beliau menyatakan bahwa terjadi perselisihan dalam hukum khitan, dan pendapat yang paling dekat dengan kebenaran menyatakan bahwa khitan itu wajib bagi laki-laki dan sunnah bagi wanita. Perbedaan hukum khitan antara laki-laki dan perempuan itu dikarenakan khitan pada laki-laki mengandung maslahat yang berkaitan dengan syarat shalat dan termasuk perkara thaharah (bersuci). Apabila kulup (kulit yang menutupi ujung zakar) tidak dihilangkan, maka air kencing yang keluar tertahan dan terkumpul di kulup tersebut hingga berakibat peradangan pada bagian tersebut, ataupun keluar tanpa sengaja bila zakar itu bergerak, sehingga menajisi. Adapun pada wanita, tujuan khitan adalah meredakan syahwatnya, bukan untuk menghilangkan kotoran. (Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah, 1/248)

Beliau t juga menyampaikan bahwa khitan merupakan pembeda antara muslimin dan orang-orang Nasrani, sehingga orang-orang yang gugur dari kalangan muslimin di medan peperangan dikenali dengan khitan. Para ulama mengatakan bahwa khitan adalah pembeda antara muslim dan kafir, maka khitan itu wajib karena wajibnya membedakan diri antara muslim dengan kafir dan haram menyerupai orang kafir, berdasarkan sabda Nabi n:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.”

Selain itu, khitan berarti memotong sesuatu bagian tubuh, sementara memotong sesuatu dari tubuh itu diharamkan. Sesuatu yang haram tidak boleh dilakukan kecuali karena sesuatu yang wajib. Dari sini jelas bahwa khitan itu wajib.

Demikian pula khitan itu diselenggarakan oleh wali seorang anak yatim, padahal khitan itu akan menyakitkan si yatim dan mengeluarkan hartanya untuk memberi upah pada orang yang mengkhitan. Seandainya ini bukan sesuatu yang wajib, tidak diperbolehkan mengambil harta dan menyakiti badan si yatim tersebut. Ini semua menunjukkan wajibnya khitan bagi laki-laki. (Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah, 1/248—249)

Khitan pada anak laki-laki dilakukan dengan cara memotong kulup (qalfah/preputium) atau kulit yang menutupi ujung zakar. Minimal menghilangkan apa yang menutupi ujung zakar, dan disunnahkan untuk mengambil seluruh kulit di ujung zakar tersebut. Sedangkan pada wanita, dilakukan dengan memotong kulit di bagian paling atas kemaluan di atas vagina yang berbentuk seperti biji atau jengger ayam jantan1. Yang harus dilakukan pada khitan wanita adalah memotong ujung kulit dan bukan memotong habis bagian tersebut. (Fathul Bari, 10/352—353)

Al-Imam an-Nawawi t berkata, “Adapun wanita, dilakukan dengan memotong bagian paling bawah dari kulit yang ada di bagian paling atas kemaluan.” (Syarh Shahih Muslim, 3/148)

Demikian pula Ibnu Taimiyah t ketika ditanya mengenai khitan wanita, beliau memberikan jawaban bahwa wanita dikhitan dengan memotong kulit yang paling atas yang berbentuk seperti jengger ayam jantan. (Majmu’ Fatawa, 21/114)

Setelah mengetahui tata cara khitan, barangkali ayah dan ibu masih menyimpan permasalahan yang berkaitan dengan waktu pelaksanaannya. Haruskah menunggu sampai si anak mencapai baligh, ataukah justru harus dilakukan pada waktu-waktu yang telah ditentukan?

Sepupu Rasulullah n, ‘Abdullah bin ‘Abbas c pernah ditanya, “Sebesar siapa engkau ketika Nabi n wafat?” Beliau pun menjawab :
أَنَا يَوْْمَئِذٍ مَخْتُوْنٌ. قَالَ: وَكَانُوا لاَ يَخْتِنُوْنَ الرَّجُلَ حَتَّى يُدْرِكَ

“Ketika itu aku telah dikhitan.” Beliau juga berkata, “Mereka tidak mengkhitan seseorang kecuali setelah mencapai baligh.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 6299)

Al-Imam al-Mawardi t menjelaskan, untuk melaksanakan khitan ada dua waktu, waktu yang wajib dan waktu yang mustahab (sunnah). Waktu yang wajib adalah ketika seorang anak mencapai baligh, sedangkan waktu mustahab sebelum baligh. Boleh pula melakukannya pada hari ketujuh setelah kelahiran. Juga disunnahkan untuk tidak mengakhirkan pelaksanaan khitan dari waktu mustahab kecuali karena ada uzur. (Fathul Bari, 10/355)

Dijelaskan pula masalah waktu pelaksanaan khitan ini oleh Ibnul Mundzir t. Beliau mengatakan, “Tidak ada larangan yang ditetapkan oleh syariat yang berkenaan dengan waktu pelaksanaan khitan ini. Juga tidak ada batasan waktu yang menjadi rujukan dalam pelaksanaan khitan tersebut, begitu pula sunnah yang harus diikuti. Seluruh waktu diperbolehkan. Tidak boleh melarang sesuatu kecuali dengan hujjah. Kami juga tidak mengetahui adanya hujjah bagi orang yang melarang khitan anak kecil pada hari ketujuh.” (Dinukil dari al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, 1/352)

Yang juga tak lepas dari kaitan pelaksanaan khitan ini adalah masalah walimah khitan. Sebagaimana yang lazim di tengah masyarakat, setelah anak dikhitan, diundanglah para tetangga untuk menghadiri acara makan bersama. Mungkin sebagian orang akan bertanya-tanya, bolehkah yang demikian ini diselenggarakan?

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani t menyebutkan di akhir-akhir “bab Walimah” pada Kitab an-Nikah dalam syarah beliau terhadap kitab Shahih al-Bukhari tentang disyariatkannya mengundang orang-orang untuk menghadiri walimah dalam khitan. Beliau juga menyebutkan bahwa riwayat dari ‘Utsman bin Abil ‘Ash z yang menyatakan:
مَا كُنَّا نَأْتِي الْخِتَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ n وَلاَ نُدْعَى لَهُ

“Kami tidak pernah mendatangi walimah khitan semasa Rasulullah n dan tidak pernah diadakan undangan padanya.”

Riwayat tersebut adalah berkaitan dengan khitan wanita. Memang termasuk sunnah adalah menyiarkan khitan anak laki-laki dan tidak menyiarkan khitan anak perempuan. (Fathul Bari, 10/355)2

Mungkin masih tersisa pertanyaan di benak ayah dan ibu, manakala mengingat buah hatinya menanggung rasa sakit, bolehkah memberikan hiburan kepadanya. Dikisahkan oleh Ummu ‘Alqamah:
أَنَّ بَنَاتِ أَخِي عَائِشَةَ خُتِنَّ فَقِيْلَ لِعَائِشَةَ: أَلاَ نَدْعُو لَهُنَّ مَنْ يُلْهِيْهُنَّ؟ قَالَتْ: بَلَى. فَأَرْسَلْتُ إِلَى عُدَى فَأَتَاهُنَّ فَمَرَّتْ عَائِشَةُ فِي الْبَيْتِ فَرَأَتْهُ يَتَغَنَّى وَيُحَرِّكُ رَأْسَهُ طَرْبًا –وَكَانَ ذَا شَعْرٍ كَثِيْرٍ– فَقَالَتْ: أُفٍّ، شَيْطَانٌ! أَخْرِجُوهُ، أَخْرِجُوهُ

“Anak-anak perempuan saudara laki-laki ‘Aisyah dikhitan, maka ditanyakan kepada ‘Aisyah, ‘Bolehkah kami memanggil seseorang yang dapat menghibur mereka?’ ‘Aisyah mengatakan, ‘Ya, boleh.’ Maka aku mengutus seseorang untuk memanggil ‘Uda, lalu dia pun mendatangi anak-anak perempuan itu. Kemudian lewatlah ‘Aisyah di rumah itu dan melihatnya sedang bernyanyi sambil menggerak-gerakkan kepalanya, sementara dia mempunyai rambut yang lebat. ‘Aisyah pun berkata, ‘Cih, setan! Keluarkan dia, keluarkan dia!’.” (Dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Adabul Mufrad no. 945 dan dalam ash-Shahihah no. 722)

Atsar dari Ummul Mukminin ‘Aisyah x ini menunjukkan disyariatkannya memberikan hiburan kepada anak yang dikhitan agar dia melupakan sakit yang dirasakannya. Bahkan ini termasuk kesempurnaan perhatian ayah dan ibu kepada sang anak. Akan tetapi, tentu saja hiburan tersebut tidak boleh berlebih-lebihan sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang, seperti menggelar nyanyian, menabuh alat-alat musik, dan selainnya yang tidak ditetapkan oleh syariat. (Ahkamul Maulud, 113—114)

Semua ini tentu tak kan luput dari perhatian ayah dan ibu yang ingin membesarkan buah hatinya di atas ketaatan kepada Allah l dan Rasul-Nya n. Mereka berdua tak akan membiarkan sekejap pun dari perjalanan hidup mutiara hati mereka, kecuali dalam bimbingan agamanya.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.